ASUHAN KEPERAWATAN PADA OSTEOBLASTOMA


 Definisi
Osteoblastoma adalah suatu lesi jinak tulang yang merupakan tumor osteoblastik agresif, yang berarti bahwa hasil dalam deposisi tulang baru. Lesi tumor ini semakin bertambah  besar ukurannya dan ditandai oleh tidak adanya pembentukan tulang reaktif perifocal. Tumor ini terjadi sekitar 1% dari semua tumor tulang primer dan sekitar 5% dari gejala tumor tulang jinak. Pria lebih sering terkena dan usia rata-rata pada diagnosis adalah 17 tahun. Lokasi yang paling umum adalah kolom tulang belakang, diikuti oleh tulang panjang, dan kemudian tulang-tulang tangan.
Osteoblastoma adalah tumor jinak tulang dengan prevalensi yang sangat langka, prosentasenya hanya 1 persen dari seluruh tumor tulang primer. Tidak seperti kebanyakan tumor tulang primer yang terjadi pada ekstremitas, osteoblastoma terjadi paling sering pada tulang belakang bawah atau tulang panjang ekstremitas bawah. Tunor ini juga bisa terjadi di salah satu tulang lengan tangan. Sebagian besar osteoblastoma tidak agresif, tapi bisa menghasilkan gejala nyeri. Salah satu bentuk tumor ini dianggap agresif karena sangat mungkin kambuh setelah operasi pengangkatan tidak lengkap. Tidak ada yang menemukan bahwa osteoblastoma berubah menjadi kondisi ganas dan tidak bermetastasis (menyebar) ke bagian lain dari tubuh.

·         Etiologi
Penyebab pasti osteoblastoma tidak diketahui. Tumor ini biasanya terjadi pada dekade kedua kehidupan, tetapi rentang pada pasien dengan usia sekitar 5 tahun sampai 45 tahun. Prevalensi osteoblastoma lebih sering terjadi pada pria daripada wanita dengan rasio 3:1. Osteoblastoma ini menyerang vertebra dan tulang panjang. Tumor ini lebih besar daripada osteoid osteoma dan terletak pada tulang berongga. Tumor ini berwarna kemerahan, dan tampaknya granular sehingga dapat diangkat sebagai diagnosis.
Ada beberapa faktor yang berhubungan dan memungkinkan menjadi faktor penyebab terjadinya keganasan tulang yang meliputi:
1.        Genetik
Beberapa kelainan genetik dikaitkan dengan terjadinya keganasan tulang misalnya gen RB-1 dan p53 berperan dalam terjadinya soft tissue sarkoma (STS)
2.        Radiasi
3.        Bahan kimia seperti dioxsin dan phenoxyherbiside diduga dapat menimbulkan sarkoma tetapi belum dapat dibuktikan.
4.        Trauma
Sekitar 30 % keganasan pada jaringan lunak memiliki riwayat trauma.
5.        Limfedema kronis
6.        Infeksi
Disebabkan oleh infeksi parasit yaitu filariasis.

·     Manifestasi Klinis
Berikut ini adalah gejala yang paling umum osteoblastoma. Perlu diingat bahwa setiap individu mungkin mengalami gejala yang berbeda:
     a. Nyeri, biasanya meningkat beratnya dengan seiring bertambahnya waktu
     b. Pembengkakan
     c. Atrophy daerah yang terkena
Ketika osteoblastoma terjadi di tulang belakang:
     a. Nyeri scoliosis
     b. Otot kejang
     c. Keterbatasan rentang gerak
Gejala osteoblastoma mungkin mirip kondisi medis lainnya. Selalu berkonsultasi dengan dokter untuk diagnosis.

·      Pemeriksaan diagnostik
a.       Rontgen dada
b.      CT scan tulang
c.       CT scan dada untuk melihat penyebaran ke paru-paru
d.      Pemeriksaan dada termasuk kimia serum
e.       Biopsi tumor
f.       Screning tulang untuk melihat penyabaran tumor.
·      Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tumor jinak biasanya tidak terlalu sulit dibandingkan dengan tumor ganas. Penatalaksanaan yang dilakukan pada osteoblastoma adalah eksisi tumor, kemudian rongga yang terjadi diisi dengan tulang dari tempat lain.
1.      Operasi
Sasaran penatalaksanaan adalah menghancurkan atau mengangkat tumor. Ini dapat dilakukan dengan eksisi bedah (berkisar dari eksisi local sampai amputasi disartikulasi). Sasaran utama dapat dilakukan dengan eksisi luas dengan teknik grafting restorative.
Prosedur mempertahankan ekstremitas hanya mengangkat tumor dan jaringan di sekitarnya. Bagian yang direseksi diganti dengan prosthesis yang telah diukur artroplasti sendi total atau jaringan tulang dari klien sendiri (autograft), atau dari donor cadaver (alograft).
Jaringan lunak dan pembuluh darah mungkin memerlukan grafting akibat luasnya eksisi. Komplikasi yang mungkin timbul adalah infeksi, pelonggaran, atau dislokasi prosthesis, allograft non-union, fraktur, devitalisasi kulit dan jaringan lunak, fibrosis sendi, dan kambuhan tumor. Fungsi dan rehabilitasi setelah pertahanan ekstremitas bergantung pada kemampuan memperkecil komplikasi dan dorongan positif.
Ketahanan dan kualitas hidup merupakan pertimbangan penting pada prosedur yang berupaya mempertahankan ekstremitas yang sakit.
Eksisi tumor melalui operasi dapat dilakukan dengan beberapa teknik :
1)      Intralesional atau intrakapsular
2)      Eksisi marginal. Eksisi marginal adalah pengeluaran tumor di luar dari kapsulnya. Teknik ini terutama dilakukan pada tumor jinak atau tumor ganas jenis low grade malignancy.
3)      Eksisi luas. Pada eksisi luas, tumor dikeluarkan secara utuh disertai jaringan di sekitar tumor yang berupa pseudo-kapsul atau jaringan yang bereaksi di luar tumor. Tindakan eksisi luas dilakukan pada tumor ganas dan biasanya dikombinasi dengan pemberian kemoterapi atau radioterapi pada pra/pasca operasi.
4)      Operasi radikal. Operasi radikal dilakukan seperti pada eksisi luas dan ditambah dengan pengeluaran seluruh tulang serta sendi dan jaringan sebagai satu bagian yang utuh. Cara ini biasanya berupa amputasi anggota gerak di atasnya dan disertai pengeluaran sendi di atasnya.
  1. Bone Graft
Bone graft atau cangkokan tulang adalah tulang yang dicangkokkan dari satu bagian kerangka lain untuk membantu penyembuhan, memperkuat atau memperbaiki fungsi tulang. Bahan yang digunakan dalam cangkok tulang dapat berasal dari tubuh pasien, dari donor atau dari buatan manusia. Dalam banyak kasus, bone graft digunakan untuk mengisi ruang kosong yang mungkin telah dibuat dalam atau antara tulang tulang belakang oleh penyakit, cedera, cacat atau selama prosedur bedah seperti fusi tulang belakang.
Cangkokan tulang yang ditransplantasikan langsung dari satu bagian kerangka tulang individu itu sendiri disebut cangkokan tulang autogenous atau tulang autografts. Dalam kebanyakan kasus, cangkokan tulang ini lebih banyak digunakan. Graft tulang diambil dari tulang pinggul, tulang rusuk atau kaki. Tulang autograft adalah salah satu yang paling aman untuk digunakan karena resiko rendah penyakit transmisi. Ini juga menawarkan kesempatan yang lebih baik penerimaan dan efektivitas dalam transplantasi situs, karena mengandung sel-sel dan protein dari tubuh pasien itu sendiri.
Cangkokan tulang yang berasal dari donor disebut tulang allograft. Tulang allograft biasanya diambil dari cadaver. Jenis tulang allograft digunakan untuk operasi tulang belakang. Tulang dibersihkan dan didesinfeksi untuk mengurangi kemungkinan transmisi penyakit dari donor. Tidak seperti tulang autograft, tulang allograft tidak selalu memiliki sifat kekuatan yang sama atau sel-sel dan protein yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tulang baru.
3.   Tindakan keperawatan
a. Manajemen nyeri
Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi ) dan farmakologi ( pemberian analgetika ).
b. Mengajarkan mekanisme koping yang efektif
Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan berikan dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi atau rohaniawan.
c. Pendidikan kesehatan
Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan terjadinya komplikasi, program terapi, dan teknik perawatan luka di rumah.(Smeltzer. 2001)
·      Komplikasi
a.    Penyakit jantung
b.   Batu ginjal
·      Diagnosa Keperawatan
1.   Nyeri bd ekspansi tumor yang cepat dan penekanan ke jaringan sekitarnya, perdarahan, atau  degenerasi.
2.   Hambatan mobilitas fisik bd penurunan rentang gerak, kelemahan otot, nyeri pada gerakan akibat ekspansi tumor yang cepat dan penekanan ke jaringan sekitarnya, perdarahan, atau degenerasi.
3.   Risiko ketidaksimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh bd ketidakseimbangan asupan nutrisi dengan peningkatan kebutuhan yang berlebihan.
            4. Ansietas bd prognosis penyakit
            5. Kurang pengetahuan bd kurangnya informasi


ASUHAN KEPERAWATAN PADA FRAKTUR KRANIUM


1.      DEFINISI
Cedera kepala adalah serangkaian kejadian patofisiologik yang terjadi setelah trauma kepala, yang dapat melibatkan kulit kepala, tulang dan jaringan otak atau kombinasinya (Standar Pelayanan Medis, RS Dr.Sardjito).
Fraktur dasar tengkorak biasanya diperlukan pemeriksaan CT Scan untuk memperjelas garis frakturnya. Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak yang menjadi petunjuk kecurigaan untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci. Tanda- tanda tersebut antara lain:
a.       Ekimosis periorbital (Raccoon eye sign).
b.      Ekimosis retro aurikuler (Battle sign).
c.       Kebocoran CSS (rhonorrea, ottorhea) dan .
d.      Parese nervus facialis ( N VII )
2.      KLASIFIKASI
Berat ringannya cedera kepala bukan didasarkan berat ringannya gejala yang muncul setelah cedera kepala. Ada beberapa klasifikasi yang dipakai dalam menentukan derajat cedera kepala. Cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagi aspek, secara praktis dikenal 3 deskripsi klasifikasi  yaitu berdasarkan:
1.      Mekanisme Cedera Kepala
Berdasarkan mekanisme, cedera kepala dibagi atas cedera kepala tumpul dan cedera kepala tembus. Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan mobil-motor, jatuh atau pukulan benda tumpul. Cedera kepala tembus disebabkan oleh peluru atau tusukan. Adanya penetrasi selaput durameter menentukan apakah suatu cedera termasuk cedera tembus atau cedera tumpul.
Berdasarkan besarnya gaya dan lamanya gaya yang bekerja pada kepala manusia maka mekanisme terjadinya cidera kepala tumpul dapat dibagi menjadi dua :
a.      Static loading
Gaya langsung bekerja pada kepala, lamanya gaya yang bekerja lambat, lebih dari 200 milidetik. Mekanisme static loading ini jarang terjadi tetapi kerusakan yang terjadi sangat berat mulai dari cidera pada kulit kepala sampai pada kerusakan tulang kepala, jaringan dan pembuluh darah otak. (Bajamal A.H, 1999).
b.      Dynamic loading
Gaya yang bekerja pada kepala secara cepat (kurang dari 50 milidetik). Gaya yang bekerja pada kepala dapat secara langsung (impact injury) ataupun gaya tersebut bekerja tidak langsung (accelerated-decelerated injury). Mekanisme cidera kepala dynamic loading ini paling sering terjadi (Bajamal A.H , 1999).
1.      Beratnya Cedera
Glascow Coma Scale (GCS) digunakan untuk menilai secara kuantitatif kelainan neurologis dan dipakai secara umum dalam deskripsi beratnya penderita cedera kepala.
a.       Cedera Kepala Ringan (CKR)
GCS 13-15, dapat terjadi kehilangan kesadaran (pingsan) kurang dari 30 menit atau mengalami amnesia retrograde. Tidak ada fraktur tengkorak, tidak ada kontusio cerebral maupun hematoma.
b.      Cedera Kepala Sedang (CKS)
GCS 9-12, kehilangan kesadaran atau amnesia retrograd lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam. Dapat mengalami fraktur tengkorak.
c.       Cedera Kepala Berat (CKB)
GCS lebih kecil atau sama dengan 8, kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam. Dapat mengalami kontusio cerebral, laserasi atau hematoma intrakranial.
1.      Morfologi Cedera
Lesi ini diklasifikasikan dalam lesi lokal dan lesi difus, walaupun kedua jenis lesi sering terjadi bersamaan.
a.       Lesi Lokal meliputi :
1.      Perdarahan Epidural
Hematoma epidural terletak d iantara dura dan calvaria. Umumnya  terjadi pada regon temporal atau temporopariental akibat pecahnya arteri meningea media (Sudiharto, 1998). Manifestasi klinik berupa gangguan kesadaran sebentar dan dengan bekas gejala (interval lucid) beberapa jam. Keadaan ini disusul oleh gangguan kesadaran progresif disertai kelainan neurologist unilateral. Kemudian gejala neurologi timbul secara progresif berupa pupil anisokor, hemiparese, papil edema dan gejala herniasi transcentorial.
Perdarahan epidural difossa posterior dengan perdarahan berasal dari sinus lateral, jika terjadi dioksiput akan menimbulkan gangguan kesadaran, nyeri kepala, muntah ataksia serebral dan paresis nervi kranialis. Ciri perdarahan epidural berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung.
2.      Perdarahan Subdural
Perdarahan subdural lebih sering terjadi daripada perdarahan epidural (kira-kira 30% dari cedera kepala berat). Perdarahan ini sering terjadi akibat robeknya vena-vena jembatan yang terletak antara kortek cerebri dan sinus venous tempat vena tadi bermuara, namun dapat terjadi juga akibat laserasi pembuluh arteri pada permukaan otak. Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak dan kerusakan otak di bawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk daripada perdarahan epidural.
3.      Kontusio ( Perdarahan Intracerebral )
Kontusio cerebral sangat sering terjadi di frontal dan lobus temporal, walau terjadi juga pada setiap bagian otak, termasuk batang otak dan cerebellum. Kontusio cerebri dapat saja terjadi dalam waktu beberapa hari atau jam mengalami evolusi membentuk perdarahan intracerebral.  Apabila lesi meluas dan terjadi penyimpangan neurologis lebih lanjut.
3.      ETIOLOGI
Fraktur kranium  dapat disebabkan oleh dua hal antara lain :
1.    Benda Tajam. Trauma benda tajam dapat menyebabkan cedera setempat.
2.    Benda Tumpul, dapat menyebabkan cedera seluruh kerusakan terjadi ketika energy / kekuatan diteruskan kepada otak. Kerusakan jaringan otak karena benda tumpul tergantung pada:
a.    Lokasi
b.    Kekuatan
c.    Fraktur infeksi/ kompresi
d.   Rotasi
e.    Delarasi dan deselarasi
Mekanisme cedera kepala
1.    Akselerasi, ketika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam. Contoh : akibat pukulan lemparan.
2.    Deselerasi. Contoh : kepala membentur aspal.
3.    Deformitas. Dihubungkan dengan perubahan bentuk atau gangguan integritas bagan tubuh yang dipengaruhi oleh kekuatan pada tengkorak.
4.      MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinik dari cedera kepala tergantung dari berat ringannya cedera kepala. Perubahan kesadaran adalah merupakan indikator yang paling sensitive yang dapat dilihat dengan penggunaan GCS (Glascow Coma Scale).
Peningkatan TIK yang mempunyai trias klasik seperti: nyeri kepala karena regangan dura dan pembuluh darah; papil edema yang disebabkan oleh tekanan dan pembengkakan diskus optikus; muntah seringkali proyektil.
a.         Fraktur pada fossa kranii anterior
Meliputi sinus frontal, etmoidal, dan sfenoidal dan disertai perdarahan hidung atau mulut. Fraktur fossa anterior mungkin melibatkan lamina cribriformis (dengan anosmia karena ruptur  bulbus olfaktorius) atau foramen optik (dengan atropi primer optik dan kebutaan). Pasien yang mengalami epistaksis dan LCS merembes dari hidung menandakan adanya robekan meningen dan mukoperiosteum. Fraktur yang meliputi atap orbita seringkali berhubungan dengan perdarahan subkonjungtiva. Black eye tidak selalu indikasi fraktur fossa anterior.
b.         Fraktur fossa kranii media
Sering terjadi karena merupakan tempat yang paling lemah pada basis cranii. Secara anatomis ini karena banyaknya foramen dan saluran di daerah ini. Bisa terjadi cedera n. III, IV, dan VI apabila dinding lateral sinus kavernosus robek dan terjadi diplopia dan paralisis m. rektus lateralis. Darah dan LCS mengalir ke hidung (lewat os. sphenoid) dan atau meatus akusticus eksternus. Cedera wajah (n. VII) dan n. auditorius mungkin terjadi karena melintasi pars petrosa ossis temporalis. Perdarahan telinga mungkin disebabkan oleh trauma langsung tanpa melibatkan fraktur tengkorak.
c.          Fraktur fossa kranii posterior
Biasanya disertai keterlibatan saraf kranial karena mengenai foramen jugularis, yaitu n. IX, X, dan XI. Jenis fraktur ini bisa diduga dengan adanya memar di regio mastoid yang meluas ke bawah melewati m.sternokleidomastoideus. Fraktur yang meliputi sinus dan cukup hebat untuk merobek duramater dan arachnoid. Darah dan LCS akan menempati ruang subarachnoid mengalir melalui nostril.
5.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.       CT-Scan: mengidentifikasi adanya sol, hemoragi menentukan ukuran ventrikel pergeseran cairan otak.
2.      MRI: sama dengan CT-Scan dengan atau tanpa kontraks.
3.      Angiografi Serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan dan trauma.
4.      EEG: memperlihatkan keberadaan/ perkembangan gelombang.
5.      Sinar X: mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (faktur pergeseran struktur dan garis tengah (karena perdarahan edema dan adanya frakmen tulang).
6.      BAER (Brain Eauditory Evoked): menentukan fungsi dari kortek dan batang otak.
7.      Pungsi Lumbal CSS: dapat menduga adanya perdarahan subaractinoid.
6.      KOMPLIKASI
Kemunduran pada kondisi pasien mungkin karena perluasan hematom intracranial, edema serebral progresif dan herniasi otak. (Brunner dan Suddarth, 2002 : hal 2215)
a.    Edema Serebral dimana terjadi peningkatan TIK karena ketidak mampuan tengkorak utuh untuk membesar meskipun peningkatan volume oleh pembengkakan otak diakibatkan dari trauma.
b.    Herniasi Otak adalah perubahan posisi ke bawah atau lateral otak melalui atau terhadap struktur kaku yang terjadi menimbulkan iskemia, infark, kerusakan otak irreversible dan kematian.
c.    Defisit neurologic dan psikologik
d.   Infeksi sistemik (pneumoni, infeksi saluran kemih, septicemia)
e.    Infeksi bedah neuron (infeksi luka, osteomielytis, meningitis, abses otak)
7.      Diagnosa Keperawatan
1.    Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d penumpukan secret sekunder akibat kehilangan reflek batuk.
2.    Ketidakefektifan pola nafas b.d depresi batang otak
3.    Gangguan perfusi cerebral b.d peningkatan TIK, edema serebri, penekanan pembuluh darah & jaringan cerebral.
4.    Sindrom defisit self care b.d kelemahan

Baca artikel sejenis : Asuhan keperawatan fraktur servikal

ASUHAN KEPERAWATAN PADA FRAKTUR SERVIKAL


By lingga dewi

   1.      Definisi
Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse, MF dan Geissler, AC (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang.
   2.      Klasifikasi
Tingkat cedera didefinisikan oleh ASIA menurut Penurunan Skala (dimodifikasi dari klasifikasi Frankel), dengan menggunakan kategori berikut:
  • A - Lengkap: Tidak ada fungsi motorik dan sensorik yang dipertahankan dalam segmen sacral S4-S5.
  • B - lengkap: Fungsi sensori dipertahankan di bawah tingkat neurologis dan meluas melalui segmen sakral S4-S5.
  • C - lengkap: Fungsi motorik dipertahankan di bawah tingkat neurologis, dan sebagian besar otot kunci di bawah tingkat otot neurologis memiliki nilai kurang dari 3.
  • D - lengkap: fungsi motorik dipertahankan di bawah tingkat neurologis, dan sebagian besar otot kunci di bawah level neurologis telah kelas otot lebih besar dari atau sama dengan 3.
  • E - Normal: Fungsi sensorik dan motorik yang normal.
Cedera servikal  dapat digolongkan menjadi :
  1. Cedera fleksi
  2. Cedera Fleksi-rotasi
  3. Cedera ekstensi
  4. Cedera compresi axial
   3.       Etiologi
            Penyebab trauma tulang belakang adalah kecelakaan lalu lintas (44%), kecelakaan olah raga(22%),terjatuh dari ketinggian(24%), kecelakaan kerja.         Lewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh namun mempunyai cukup kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan.
Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu:
a. Fraktur akibat peristiwa trauma
Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa  pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran ataupenarikan.
b. Fraktur akibat kelelahan atau tekanan
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada tibia, fibula atau matatarsal terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.
 c. Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang 
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.
   4.       Manifestasi klinis
Lewis (2006) menyampaikan manifestasi klinik adalah sebagai berikut:
a. Nyeri
Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.
b. Bengkak/edama
Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada daerah fraktur dan extravasi daerah di jaringan sekitarnya.
c. Memar/ekimosis
Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di jaringan sekitarnya.
d. Spasme otot
Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar fraktur.
e. Penurunan sensasi
Terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema.
f. Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri atau spasme otot. paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf.
g. Mobilitas abnormal
Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang panjang.
h. Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian tulang digerakkan.
i. Deformitas
Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.
j. Shock hipovolemik
Shock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat.
   5.      Pemeriksaan Penunjang
CT SCAN : Pemeriksaan ini dapat memberikan visualisasi yang baik komponen tulang servikal dan sangat membantu bila ada fraktur akut.
MRI : Pemeriksaan ini sudah menjadi metode imaging pilihan untuk daerah servikal . MRI dapat mendeteksi kelainan ligamen maupun diskus. Seluruh daerah medula spinalis , radiks saraf dan tulang vertebra dapat divisualisasikan.
Elektromiografi ( EMG) : Pemeriksaan EMG membantu mengetahui apakah suatu gangguan bersifat neurogenik atau tidak, karena pasien dengan spasme otot, artritis juga mempunyai gejala yang sama. Selain itu juga untuk menentukan level dari iritasi/kompresi radiks , membedakan lesi radiks dan lesi saraf perifer, membedakan adanya iritasi atau kompresi
   6.      Komplikasi
1.                  Syok neurogenik
Syok neurogenik merupakan hasil dari kerusakan jalur simpatik yang desending pada medulla spinalis. Kondisi ini mengakibatkan kehilangan tonus vasomotor dan kehilangan persarafan simpatis pada jantung sehingga menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah visceral serta ekstremitas bawah maka terjadi penumpukan darah dan konsekuensinya terjadi hipotensi.
2.                  Syok spinal
Syok spinal adalah keadaan flasid dan hilangnya refleks, terlihat setelah terjadinya cedera medulla spinalis. Pada syok spinal mungkin akan tampak seperti lesi komplit walaupun tidak seluruh bagian rusak.
3.                  Hipoventilasi
Hal ini disebabkan karena paralisis otot interkostal yang merupakan hasil dari cedera yang mengenai medulla spinalis bagian di daerah servikal bawah atau torakal atas.
4.                  Hiperfleksia autonomic
Dikarakteristikkan oleh sakit kepala berdenyut , keringat banyak, kongesti nasal, bradikardi dan hipertensi.
   7.      Diagnosa Keperawatan
1.      Pola napas tidak efektif b.d kelumpuhan otot pernapasan (diafragma), kompresi medulla spinalis.
2.      Gangguan rasa nyaman : Nyeri b.d adanya cedera pada cervikalis
3.      Gangguan pola eliminasi uri : inkontinensia uri b.d kerusakan saraf perkemihan
4.      Gangguan eliminasi alvi : Konstipasi b.d penurunan peristaltik usus akibat kerusakan persarafan usus & rectum.
5.      Kerusakan mobiltas fisik b.d kelumpuhan pada anggota gerak
   8.      Rencana Intervensi
1.    Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelumpuhan otot diafragma
Tujuan perawatan : pola nafas efektif setelah diberikan oksigen
Kriteria hasil :
      a)      ventilasi adekuat
      b)      PaCo2<45
      c)      PaO2>80
      d)     RR 16-20x/ menit
      e)      Tanda-tanda sianosis(-) : CRT  2 detik
Intervensi keperawatan :
  1. Pertahankan jalan nafas; posisi kepala tanpa gerak.
Rasional : pasien dengan cedera cervicalis akan membutuhkan bantuan untuk mencegah aspirasi/ mempertahankan jalan nafas.
  1. Lakukan penghisapan lendir bila perlu, catat jumlah, jenis dan karakteristik sekret.
Rasional : jika batuk tidak efektif, penghisapan dibutuhkan untuk mengeluarkan sekret, dan mengurangi resiko infeksi pernapasan.
  1. Kaji fungsi pernapasan.
Rasional : trauma pada C5-6 menyebabkan hilangnya fungsi pernapasan secara partial, karena otot pernapasan mengalami kelumpuhan.
  1. Auskultasi suara napas.
Rasional : hipoventilasi biasanya terjadi atau menyebabkan akumulasi sekret yang berakibat pnemonia.
  1. Observasi warna kulit.
Rasional : menggambarkan adanya kegagalan pernapasan yang memerlukan tindakan segera
  1. Kaji distensi perut dan spasme otot.
Rasional : kelainan penuh pada perut disebabkan karena kelumpuhan diafragma
  1. Anjurkan pasien untuk minum minimal 2000 cc/hari.
Rasional : membantu mengencerkan sekret, meningkatkan mobilisasi sekret sebagai ekspektoran.
  1. Lakukan pengukuran kapasitas vital, volume tidal dan kekuatan pernapasan. Rasional : menentukan fungsi otot-otot pernapasan. Pengkajian terus menerus untuk mendeteksi adanya kegagalan pernapasan.
  2. Pantau analisa gas darah.
Rasional : untuk mengetahui adanya kelainan fungsi pertukaran gas sebagai contoh : hiperventilasi PaO2 rendah dan PaCO2 meningkat.
  1. Berikan oksigen dengan cara yang tepat.
Rasional : metode dipilih sesuai dengan keadaan isufisiensi pernapasan.
  1. Lakukan fisioterapi nafas.
Rasional : mencegah sekret tertahan

2.    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya cedera
Tujuan keperawatan : rasa nyaman terpenuhi setelah diberikan perawatan dan pengobatan
Kriteria hasil : melaporkan rasa nyerinya berkurang dengan skala nyeri 6 dalam waktu 2 X 24 jam
Intervensi keperawatan :
  1. Kaji terhadap nyeri dengan skala 0-5.
Rasional : pasien melaporkan nyeri biasanya diatas tingkat cedera.
  1. Bantu pasien dalam identifikasi faktor pencetus.
Rasional : nyeri dipengaruhi oleh; kecemasan, ketegangan, suhu, distensi kandung kemih dan berbaring lama.
  1. Berikan tindakan kenyamanan.
Rasional : memberikan rasa nayaman dengan cara membantu mengontrol nyeri.
  1. Dorong pasien menggunakan tehnik relaksasi.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol.
  1. Berikan obat antinyeri sesuai pesanan.
Rasional : untuk menghilangkan nyeri otot atau untuk menghilangkan kecemasan dan meningkatkan istirahat

3.    Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan kelumpuhan syarat perkemihan.
Tujuan perawatan : pola eliminasi kembali normal selama perawatan
Kriteria hasil :
a)    Produksi urine 50cc/jam
b)   Keluhan eliminasi urin tidak ada
Intervensi keperawatan:
1.      Kaji pola berkemih, dan catat produksi urine tiap jam.
Rasional : mengetahui fungsi ginjal
2.      Palpasi kemungkinan adanya distensi kandung kemih.
3.      Anjurkan pasien untuk minum 2000 cc/hari.
Rasional : membantu mempertahankan fungsi ginjal.
4.      Pasang dower kateter.
Rasional membantu proses pengeluaran urine

4.    Gangguan eliminasi alvi /konstipasi berhubungan dengan gangguan persarafan pada usus dan rektum.
Tujuan perawatan : pasien tidak menunjukkan adanya gangguan eliminasi alvi/konstipasi
Kriteria hasil : pasien bisa b.a.b secara teratur sehari 1 kali
Intervensi keperawatan :
1.    Auskultasi bising usus, catat lokasi dan karakteristiknya.
Rasional : bising usus mungkin tidak ada selama syok spinal.
2.    Observasi adanya distensi perut.
3.    Catat adanya keluhan mual dan ingin muntah, pasang NGT.
4.    Rasional : pendarahan gantrointentinal dan lambung mungkin terjadi akibat trauma dan stress.
5.    Berikan diet seimbang TKTP cair
Rasional : meningkatkan konsistensi feces
6.    Berikan obat pencahar sesuai pesanan.
Rasional: merangsang kerja usus

5.    Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan
Tujuan perawatan : selama perawatan gangguan mobilisasi bisa diminimalisasi sampai cedera diatasi dengan pembedahan.
Kriteria hasil :
a)    Tidak ada konstraktur
b)   Kekuatan otot meningkat
c)    Klien mampu beraktifitas kembali secara bertahap
Intervensi keperawatan :
1.         Kaji secara teratur fungsi motorik.
Rasional : mengevaluasi keadaan secara umum
2.         Instruksikan pasien untuk memanggil bila minta pertolongan.
Rasional memberikan rasa aman
3.         Lakukan log rolling.
Rasional : membantu ROM secara pasif
4.         Pertahankan sendi 90 derajad terhadap papan kaki.
Rasional mencegah footdrop
5.         Ukur tekanan darah sebelum dan sesudah log rolling.
Rasional : mengetahui adanya hipotensi ortostatik
6.         Inspeksi kulit setiap hari.
Rasional : gangguan sirkulasi dan hilangnya sensai resiko tinggi kerusakan integritas kulit.
7.         Berikan relaksan otot sesuai pesanan seperti diazepam.
Rasional : berguna untuk membatasi dan mengurangi nyeri yang berhubungan dengan spastisitas.

6. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama
      Tujuan keperawatan : tidak terjadi gangguan integritas kulit selama perawatan
       Kriteria hasil : tidak ada dekibitus, kulit kering
       Intervensi keperawatan :
1.      Inspeksi seluruh lapisan kulit.
Rasional : kulit cenderung rusak karena perubahan sirkulasi perifer.
2.      Lakukan perubahan posisi sesuai pesanan.
Rasional : untuk mengurangi penekanan kulit
3.      Bersihkan dan keringkan kulit.
 Rasional: meningkatkan integritas kulit
4.      Jagalah tenun tetap kering.
Rasional: mengurangi resiko kelembaban kulit
5.      Berikan terapi kinetik sesuai kebutuhan.
Rasional : meningkatkan sirkulasi sistemik dan perifer dan menurunkan tekanan pada kulit serta mengurangi kerusakan kulit.

 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 PROUD TO BE NERS |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.